Bibibi, Tradisi Berbagi Warga Probolinggo pada Malam Ke-27 Ramadan
Sore itu bakda Ashar, sekelompok anak bergerombol di sebuah sudut kampung di Kota Probolinggo. Mereka kemudian bergerak ke arah yang sama, rumah seorang warga ketika ada seorang bocah yang menyeru, “Bibibi,…..ayo ke sini ada Bibibi.”
Itulah sepenggal tradisi Bibibi yang dilakukan sebagian warga di Kota Probolinggo pada malam ke-27 Ramadan.
Di antaranya di Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan dan di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran.
Tradisi berbagi makanan, minuman, hingga uang saku untuk anak-anak sebagai apresiasi mereka segera merampungkan ibadah puasa sebulan penuh.
Belum diketahui sejak kapan Bibibi bermula, diperkirakan sudah berumur sekitar 100 tahun silam.
“Warga Madura di Probolinggo menyebut Bibibi, warga Jawa menyebut Wehweh,” kata Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono, Senin, 16 Maret 2026.
Sebenarnya tradisi serupa (Bibibi) tidak hanya ditemukan di Kota Probolinggo. Di beberapa daerah lain di Jawa seperti, Jember, Lumajang, hingga Malang juga ada Bibibi.
Tetapi tradisi yang juga disebut malem petolekoran (Malam 27 Ramadan) itu demikian melekat di masyarakat Probolinggo.
Dua WBTb
Terkait berbagi makanan melalui Bibibi, pada tahun 2026 ini, Martono bersama komunitasnya berbagi Ketan Kratok, kuliner khas Kota Probolinggo.
Makanan ini merupakan campuran antara ketan dengan kratok (Madura = kacang polong/kara).
Kebetulan, Ketan Kratok dan Tradisi Bibibi sama-sama telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) milik Kota Probolinggo oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI pada 2025 lalu.
”Kedua warisan budaya khas Kota Probolinggo itu dinilai layak dan lolos direkomendasikan sebagai warisan budaya takbenda. Sebab, hingga kini masih hidup dan dijaga kelestariannya,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo, Siti Romlah.
Ketan Kratok dipilih karena memiliki keunikan dan cita rasa yang mencerminkan identitas khas Kota Probolinggo.
Selain itu, keberadaannya yang tetap lestari menjadi salah satu alasan kuat Ketan Kratok diusulkan sebagai WBTb.
Hingga kini, menurutnya, masih banyak pedagang yang menjual Ketan Kratok di berbagai sudut Kota Probolinggo.
Bahkan, banyak warga yang menggemari panganan satu ini. Mulai anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua.
”Kami juga mengusulkan Ketan Kratok dijadikan makanan daerah asli Kota Probolinggo dan jadi sajian dalam kegiatan resmi, hajatan, hingga festival budaya di Kota Probolinggo,” terangnya.
Sementara Bibibi, menurut Romlah, merupakan tradisi tahunan yang dilakukan setiap malam 27 Ramadan. Bibibi menjadi warisan budaya kedua yang berhasil lolos dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025.