Cinta Keluarga Tak Terpenjara, Napi Terorisme Dampingi Pernikahan Putrinya
Di balik pengamanan ketat dan tembok tinggi Lapas Kelas I Surabaya di Porong, tersaji peristiwa langka yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Seorang warga binaan kasus terorisme berinisial ZJ mendapat kesempatan mendampingi putri tercintanya menuju pelaminan, tepat di Masjid Nurul Fuad yang berada di dalam area lapas, Jumat 6 Februari 2026.
Momen tersebut bukan sekadar prosesi pernikahan,. Tetapi juga menjadi potret pendekatan pembinaan berbasis keluarga yang dijalankan lembaga pemasyarakatan.
Tangis haru ZJ pecah saat menyaksikan putrinya mengucap ijab kabul,. Bahwa, status sebagai narapidana tidak serta-merta memutus peran emosional seorang ayah.
Pihak Lapas memfasilitasi prosesi ini sebagai bentuk pemenuhan hak sosial warga binaan sekaligus implementasi program pembinaan kepribadian.
Acara berlangsung khidmat dengan pengawasan ketat, dihadiri tim KUA Kecamatan Porong, perwakilan Densus 88, petugas lapas, serta keluarga inti kedua mempelai.
Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan, termasuk bagi warga binaan kasus tindak pidana khusus.
βFasilitasi pernikahan ini bukan hanya soal administrasi, tetapi bagian dari pembinaan mental dan emosional. Keterlibatan keluarga memiliki peran besar dalam mendorong perubahan sikap warga binaan,β ujarnya.
Menurut Sohibur, menjaga ikatan keluarga justru menjadi modal utama agar warga binaan memiliki motivasi untuk menjalani pembinaan dengan lebih baik serta mempersiapkan diri kembali ke masyarakat.
βKeluarga adalah pondasi. Ketika hubungan itu tetap terjaga, akan tumbuh rasa tanggung jawab, kesadaran, dan kesiapan untuk reintegrasi sosial,β jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, selama menjalani masa pidana, ZJ menunjukkan perkembangan signifikan dalam proses pembinaan. Momentum pernikahan putrinya dinilai menjadi titik emosional penting sebelum memasuki tahap lanjutan.
Dalam waktu dekat, ZJ dijadwalkan akan mengucapkan Ikrar Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bagian dari program deradikalisasi yang dijalankan pemerintah.
βPekan depan yang bersangkutan akan melaksanakan ikrar NKRI. Ini menjadi indikator perubahan pola pikir dan sikap, serta komitmen untuk kembali setia kepada negara,β tegas Sohibur.
Langkah tersebut diharapkan menjadi jembatan bagi ZJ untuk kembali diterima masyarakat setelah masa pidananya berakhir, sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada pemulihan dan perubahan.
Advertisement