Festival Kampung Dongeng Jember, Ajak Orang Tua Kembali Luangkan Waktu Bercerita untuk Anak
Festival Kampung Dongeng digelar di Lapangan Universitas Jember, Sabtu, 30 Mei 2026, sebagai bagian dari rangkaian peringatan 17 tahun Kampung Dongeng Indonesia. Kegiatan tersebut melibatkan anak-anak, orang tua, komunitas, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam berbagai aktivitas edukatif dan rekreatif.
Festival ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong terciptanya interaksi yang lebih intens antara orang tua dan anak di tengah kesibukan serta meningkatnya penggunaan perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai kegiatan disiapkan untuk melibatkan keluarga secara langsung, mulai dari permainan keluarga, kegiatan literasi, hingga sesi mendongeng.
Ketua Panitia Festival Kampung Dongeng, Unshita Rini, mengatakan kegiatan yang digelar di Jember merupakan bagian dari rangkaian Festival Kampung Dongeng yang berlangsung di berbagai daerah selama 17 hingga 31 Mei 2026.
βKegiatan hari ini adalah kegiatan untuk menciptakan kedekatan antara orang tua dengan anak. Jadi melalui kegiatan-kegiatan seperti bermain bersama keluarga, membuat kreasi bersama orang tua, hingga mendengarkan dongeng,β ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta diajak mengikuti berbagai aktivitas yang melibatkan kerja sama antara orang tua dan anak. Salah satunya adalah pembuatan lilin berbahan minyak jelantah yang dikemas sebagai kegiatan kreatif dan edukatif.
Selain itu, panitia juga menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) untuk menghadirkan kegiatan literasi. Anak-anak bersama orang tua diajak membaca buku dan mengikuti sesi dongeng yang disampaikan oleh pendongeng dari komunitas Kampung Dongeng.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa taman kanak-kanak, komunitas anak, hingga masyarakat umum. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah pelaku UMKM yang membuka stan selama acara berlangsung.
βYang kami libatkan ini masyarakat umum. Ada anak-anak TK, komunitas Delta Hijau Cilik, masyarakat umum, dan ada juga sekitar delapan UMKM yang turut mendukung kegiatan hari ini,β katanya.
Menurut Unshita, salah satu tujuan utama festival ini adalah menghidupkan kembali budaya bercerita di lingkungan keluarga. Ia menilai kebiasaan membacakan cerita atau mendongeng mulai berkurang karena kesibukan orang tua maupun perubahan pola interaksi dalam keluarga.
Padahal, kata dia, kegiatan bercerita tidak harus dilakukan dalam waktu lama. Orang tua cukup meluangkan waktu lima hingga sepuluh menit setiap hari untuk membacakan cerita atau berdongeng kepada anak.
Melalui cerita, berbagai pesan positif dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima oleh anak dibandingkan melalui nasihat secara langsung. Anak cenderung lebih nyaman menerima pesan yang dikemas dalam bentuk cerita karena tidak merasa digurui.
βDengan mendongeng atau bercerita, pesan yang ingin kita sampaikan biasanya lebih cepat masuk ke anak. Mereka tidak merasa dimarahi atau digurui, tetapi bisa memahami nilai-nilai yang ingin disampaikan melalui cerita,β ungkapnya.
Ia menambahkan, aktivitas mendongeng juga memiliki sejumlah manfaat lain, seperti memperkaya kosakata anak, melatih kemampuan berkomunikasi, meningkatkan rasa percaya diri, serta memperkuat hubungan emosional antara anak dan orang tua.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi durasi penggunaan gawai atau screen time pada anak. Menurutnya, penggunaan teknologi tetap diperlukan di era digital, namun perlu dilakukan secara bijaksana dan proporsional.
Di akhir kegiatan, panitia mengajak para orang tua untuk membangun kedekatan dengan anak melalui interaksi sederhana yang dilakukan secara rutin di rumah. Salah satunya dengan menyediakan waktu khusus untuk membaca cerita atau mendongeng bersama.
βPesan kami kepada para orang tua adalah membangun kedekatan dengan anak-anak. Tidak perlu waktu yang lama, yang penting ada waktu untuk berinteraksi, bercerita, dan mendengarkan mereka setiap hari,β pungkasnya.
Advertisement