Kiai Hasan Genggong, Arsitek Tradisi Keilmuan yang Membentuk Wajah Probolinggo
Salah satu ulama deretan ulama Nusantara yang memberi warna kuat pada perkembangan Islam di Jawa Timur, nama Kiai Hasan Genggong atau KH. Mohammad Hasan. Beliau merupakan salah satu figur yang pengaruh dan masih terasa hingga kini. Selain sosok yang rendah hati arsitek tradisi keilmuan dan spiritualitas yang kemudian mengakar kuat di Probolinggo dengan Pondok Pesantren Zainul Hasan (PZH) Genggong.
Pria dari Desa Sentong, Kecamatan Krejengan,Probolinggo, Jawa Timur ini lahir pada 23 Agustus 1843 atau 27 Rajab 1259 H. Lahir dan besar dalam keluarga ulama. Ayahnya, Syamsuddin dan ibunya, Nyai Khadijah adalah figur yang disiplin mendidik anak-anaknya. Ada kisah tentang kelahiran kiai Hasan ini. Ketika hamil, Kiai Syamsuddin pernah bermimpi istrinya menelan bulan purnama.
Mimpi ini diyakini sebuah simbol lahirnya anak yang kelak membawa cahaya bagi masyarakat. Dan ternyata keyakinan itu terkonfirmasi Hasan tumbuh dengan kecerdasan tinggi, hafalan kuat, serta tutur kata yang lembut sejak kecil. Wafatnya Kiai Syamsuddin ketika Hasan masih kecil membuat peran ibunya semakin besar. Nyai Khadijah mendidik Hasan seorang membesarkannya dalam lingkungan penuh nilai keikhlasan dan kerja keras. Kelak didikan tersebut membentuk karakter kuat yang kelak menjadi fondasi ketokohan Kiai Hasan.
Pengembaraan Menuntut Ilmu hingga Tanah Suci
Lahir dalam lingkungan yang taat agama, pendidikan dasar agama diperolehnya dari keluarganya sendiri. Setelah usianya 14 tahun, Hasan muda kemudian mondok di berbagai pesantren. Salah satunya adalah Pesantren Sukunsari Pohjentrek, Pasuruan. Di pesantren yang kala itu di bawah asuhan Kiai Mohammad Tamim, Hasan menekuni pelajaran dasar fikih dan nahwu. Setelah dirasa cukup, kemudian melanjutkan pendidikannya Pesantren Bangkalan di Bangkalan. Di pesantren tersebut mengabdikan diri selama 3 tahun.
Rentang panjang ini menunjukkan ketekunan luar biasa. Perjalanan intelektualnya berlanjut hingga ke Tanah Suci. Di Mekkah, ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu tauhid, tasawuf, serta hadis selama tiga tahun. Perjumpaannya dengan para ulama internasional kemudian memperkaya perspektif keilmuannya. Hal inilah yang kemudian menjadikan kiai Hasan salah satu intelektual tradisional yang bertaraf global pada zamannya.
Probolinggo menjadi tempatnya berdakwah dan menyebarkan ilmu setelah pengembaraan panjangnya. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Kiai Hasan ingin membumikan ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat. Sebagai ulama yang dekat dengan masyarakat, Kiai Hasan dikenal sering berkeliling desa, mengajar, dan berdakwah dari satu rumah ke rumah lain. Kepribadiannya yang ramah, komunikatif, dan penuh empati membuatnya dihormati lintas kalangan. Ia juga dikenal gemar bersedekah hingga tak pernah membiarkan uang tersisa di kantongnya.
Selain berdakwah, Kiai Hasan juga menghasilkan sejumlah karya tulis yang digunakan di banyak pesantren Nusantara. Beberapa kitab karangannya mencakup berbagai disiplin ilmu seperti fikih, tauhid, dan hadis. Karya dari Kiai Hasan ini antara lain Aqidah al-Tauhid fi Ilmi al-Tauhid, Nadham Safinatun Najah, Khutbatain Li βId al-Fitri wa Adha, hingga Al-Ahadits al-Nabawiyyah βAla Tartib al-Akhruf al-Hijaiyyah.
Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa ia bukan sekadar pendakwah, tetapi seorang ulama berpengetahuan luas yang produktif. KH. Mohammad Hasan wafat pada 11 Juni 1955 (11 Syawal 1374 H) dan dimakamkan di kompleks keluarga Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo. Warisannya hingga kini masih hidup dan mewarnai ribuan santri. Larya-karya tulis, dan tradisi intelektual masih menjadi rujukan bagi masyarakat hingga hari ini.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement