Nataru 2026, Densus 88 Tangkap 7 Terduga Teroris, Total 51 Sepanjang 2025
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mencatat telah mengamankan 51 tersangka kasus tindak pidana terorisme sepanjang tahun 2025. Capaian tersebut menunjukkan tren penurunan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekaligus menegaskan situasi keamanan nasional yang relatif kondusif.
Data itu disampaikan dalam konferensi pers rilis akhir tahun Polri yang digelar di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa 30 Desember 2025.
Kabareskrim Polri Komjen Pol Syahardiantono menyebut, jumlah penangkapan tersangka terorisme pada 2025 lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 147 orang dan tahun 2024 sebanyak 55 orang. “Jumlah penangkapan tersangka terorisme sepanjang 2025 sebanyak 51 orang,” kata Syahardiantono.
Penangkapan Selama Libur Nataru 2026
Selain data tahunan, Densus 88 juga mengamankan 7 tersangka terorisme selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Sementara itu juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana menjelaskan, ketujuh tersangka tersebut terafiliasi dengan dua jaringan berbeda, yakni Negara Islam Indonesia (NII) dan Ansharut Daulah (AD).
“Ketujuh pelaku terafiliasi dengan jaringan NII dan Ansharut Daulah,” ujar Mayndra dalam keterangan tertulis, Rabu 31 Desember 2025.
Mayndra menjelaskan, dua tersangka dari kelompok NII ditangkap di wilayah Sumatera Utara. Keduanya langsung ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan karena berperan dalam struktur organisasi NII. “Dua tersangka dilakukan penegakan hukum terkait perannya dalam struktur organisasi NII. Keduanya diamankan di Sumatera Utara,” jelasnya.
Sementara itu, lima tersangka lainnya yang terafiliasi jaringan Ansharut Daulah (AD) ditangkap di empat wilayah berbeda, yakni Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua.
Berdasarkan hasil penyidikan, kelima tersangka tersebut berperan aktif dalam propaganda dan seruan ajakan melakukan aksi teror kepada masyarakat.
“Mereka merupakan pendukung Daulah (ISIS) yang aktif menyerukan propaganda dan ajakan untuk melakukan aksi teror,” ungkap Mayndra.
Syahardiantono juga mengungkapkan, sepanjang tahun 2025 tidak terjadi aksi terorisme di Indonesia. Kondisi zero terrorism attacks telah berlangsung sejak tahun 2023 hingga saat ini.
Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari strategi komprehensif Densus 88 yang mengombinasikan pendekatan hard approach dan soft approach.
Beberapa strategi yang diterapkan Densus 88 meliputi: Deteksi dini dan preventive strike, Sosialisasi kebangsaan dan narasi moderat, Pemberdayaan eks narapidana terorisme dan keluarga serta Kolaborasi nasional dan internasional.
Langkah-langkah tersebut dinilai efektif dalam menekan potensi radikalisme sekaligus menjaga stabilitas keamanan nasional.