Pekerja Migran Bangkalan Meninggal Akibat Kecelakaan Kapal di Korea Selatan
Kabar duka datang dari keluarga besar pekerja migran Indonesia (PMI). Misturi (33), warga Dusun Maadan, Desa Bator, Kecamatan Klampis, Bangkalan, meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di Korea Selatan.
Misturi yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) dilaporkan tewas setelah terjepit alat pengering ikan di kapal penangkap ikan berbobot 87 ton bernama 105 Sungwoongho, yang tengah beroperasi di perairan sekitar Busan, Korea Selatan.
Menurut keterangan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul, insiden itu terjadi pada Senin 15 September 2025 pukul 15.30 waktu setempat. Saat kejadian, Misturi terjepit di antara papan pengeringan ikan di atas dek kapal.
Sempat Dievakuasi ke Rumah Sakit
Korban sempat dievakuasi ke RS Busan Gosin University Gospel untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, nyawa Misturi tidak dapat diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal dunia di hari yang sama.
Hasil pemeriksaan post-mortem oleh Klinik Forensik di Busan menyebutkan bahwa penyebab kematian Misturi adalah compressive asphyxia, yaitu kondisi sesak napas akibat tekanan benda keras.
Jenazah Dipulangkan ke Bangkalan
Jenazah Misturi kemudian dipulangkan ke Indonesia pada Selasa 23 September 2025 dan tiba di rumah duka di Bangkalan pada Rabu 24 September 2025 sore.
Kepala Disperinaker Bangkalan, Jemmi Tria Sukmana, menjelaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab penuh untuk memastikan jenazah kembali ke keluarga.
βTugas kami menjemput dari Terminal Kargo Bandara Juanda. Jenazah datang sekitar pukul 17.30 WIB. Kami bersama P4MI Pamekasan mengantarkan jenazah ke keluarga,β ujar Jemmi pada media Jumat 26 September 2025.
Pemerintah Tegaskan Komitmen
Jemmi menegaskan bahwa pemulangan jenazah Misturi merupakan kewajiban pemerintah, tanpa memandang status legal atau ilegal seorang PMI.
βAlmarhum turut membangun perekonomian daerah lewat devisa yang dikirimkan ke Bangkalan. Karena itu, pemulangan jenazah adalah kewajiban kami untuk memuliakan almarhum,β tegasnya.
Kasus ini menambah panjang daftar pekerja migran asal Indonesia yang menghadapi risiko keselamatan kerja di luar negeri. Meski demikian, kontribusi mereka tetap besar bagi perekonomian nasional, terutama melalui remitansi atau devisa yang dikirimkan kepada keluarga di tanah air.
Advertisement