Pemain Persebaya Jalani CMJ Test, Ini Kegunaannya
Persebaya Surabaya terus mematangkan persiapan menghadapi Piala Presiden 2026. Setelah menjalani laga pramusim perdana bertajuk 99th Anniversary Game melawan PSIS Semarang yang berakhir imbang 2-2, skuad Bajol Ijo menjalani Counter Movement Jump (CMJ) Test untuk memantau kondisi fisik para pemain.
Sebelumnya, para pemain mendapat waktu istirahat selama satu hari guna memulihkan kondisi usai pertandingan. Namun, masa pemulihan tersebut tetap dipantau secara intensif oleh tim pelatih dan tim medis agar seluruh pemain berada dalam kondisi terbaik.
Pada Selasa 21 Juli 2026, para pemain kembali berkumpul di Lapangan C Stadion Gelora Bung Tomo untuk menjalani sesi recovery sekaligus evaluasi fisik berbasis data.
CMJ Test Jadi Acuan Kesiapan Pemain
Pelatih fisik Persebaya, Diogo Carvalho, menjelaskan bahwa pemantauan kondisi fisik pemain merupakan bagian penting dalam persiapan tim menghadapi jadwal pertandingan yang semakin padat.
Salah satu metode yang digunakan adalah Counter Movement Jump (CMJ) Test, yaitu tes lompatan vertikal untuk mengukur kapasitas neuromuskular, tingkat kelelahan, hingga kesiapan pemain mengikuti latihan maupun pertandingan berikutnya.
"Tes CMJ menjadi salah satu instrumen penting bagi kami untuk memantau kondisi fisik pemain. Melalui tes ini, kami bisa mendapatkan data yang akurat mengenai kapasitas neuromuskular, tingkat kelelahan, serta kesiapan pemain untuk menjalani latihan maupun pertandingan," ujar Diogo Carvalho.
CMJ merupakan tes yang dilakukan dengan melompat setinggi mungkin menggunakan awalan gerakan jongkok cepat. Metode ini digunakan untuk mengukur kekuatan otot tungkai, daya ledak (power), serta tingkat kelelahan otot yang sangat berkaitan dengan aktivitas pemain sepak bola, seperti berlari, melompat, berakselerasi, dan mengubah arah.
Hasil Dibandingkan dengan Data Awal
Menurut pelatih asal Portugal tersebut, setiap pemain telah memiliki data dasar yang dikumpulkan sejak awal masa persiapan musim. Hasil CMJ Test terbaru kemudian dibandingkan dengan data tersebut untuk mengetahui perkembangan kondisi fisik masing-masing pemain.
"Kami memiliki data awal atau nilai acuan dari setiap pemain. Setelah itu, hasil tes akan dibandingkan dengan data tersebut untuk melihat perubahan kondisi fisik mereka. Dari sana kami bisa mengetahui apakah pemain berada dalam kondisi optimal, mengalami kelelahan, atau memiliki risiko cedera," jelasnya.
Gunakan Teknologi VALD Performance
Dalam pelaksanaan CMJ Test, Persebaya memanfaatkan teknologi VALD Performance untuk memperoleh data performa pemain secara objektif.
Performance Coach DBL Academy, Muhammad Nur Rofik, mengatakan perangkat tersebut mampu memberikan informasi lebih rinci dibandingkan pengamatan secara visual.
"Melalui sistem VALD Performance, kami bisa memperoleh data yang cukup lengkap. Tidak hanya tinggi lompatan, tetapi juga peak power atau daya ledak maksimum yang dihasilkan pemain saat melakukan lompatan," ujarnya.
Selain itu, sistem juga menampilkan data peak power absolut maupun peak power relatif terhadap berat badan pemain, sehingga kondisi fisik setiap pemain dapat dianalisis lebih detail.
Menurut Rofik, CMJ Test sangat relevan diterapkan pada sepak bola karena mayoritas aktivitas permainan bertumpu pada kekuatan anggota tubuh bagian bawah.
"Dalam sepak bola, sebagian besar aktivitas fisik melibatkan anggota tubuh bagian bawah. Gerakan pada tes CMJ memiliki mekanisme yang cukup merepresentasikan tuntutan permainan, sehingga sangat relevan digunakan untuk mengukur kapasitas fisik pemain sepak bola," katanya.
Dilakukan H+2 Usai Pertandingan
Rofik menambahkan, waktu pelaksanaan tes juga memiliki peran penting. CMJ Test dilakukan pada H+2 setelah pertandingan sehingga tim pelatih dapat melihat respons tubuh pemain setelah menerima beban pertandingan.
"Hasilnya bisa meningkat atau menurun tergantung kondisi masing-masing pemain. Dari situ kami membuat catatan dan rekomendasi yang kemudian menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih dan tim medis," jelasnya.
Persebaya Siap Hadapi Piala Presiden 2026
Setelah menjalani agenda pramusim pertama, Persebaya kini fokus menatap Piala Presiden 2026. Pada turnamen pramusim bergengsi tersebut, Green Force tergabung di Grup B bersama Port FC (Thailand), PSMS Medan, dan Persija Jakarta.
Piala Presiden 2026 akan menjadi ajang penting bagi pelatih untuk mengukur perkembangan skuad, mengevaluasi kondisi fisik pemain, sekaligus mematangkan strategi sebelum menghadapi kompetisi resmi musim 2026/2027.
Advertisement