Syaikhona Kholil Dikenal Ahli Nahwu, Menag Ungkap Warisan Penting di Bidang Al-Qur’an
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengapresiasi penyelenggaraan Halaqah Manuskrip Al-Qur’an Syaikhona Muhammad Kholil serta Pameran Manuskrip Al-Qur’an Bangkalan. Menurutnya, kegiatan ini membuka sisi lain dari ulama besar tersebut yang selama ini lebih dikenal sebagai ahli nahwu (tata bahasa Arab).
Dalam sambutan pembukaan yang disampaikan melalui rekaman video pada Rabu 1 April 2026, Menag menilai acara ini sebagai langkah penting dalam pelestarian khazanah keilmuan Islam, khususnya dalam mengungkap kontribusi Syaikhona Kholil di bidang Al-Qur’an.
“Ini adalah langkah penting untuk mengungkap dan mengenalkan kembali kekayaan intelektual beliau di bidang Al-Qur’an,” ujar Nasaruddin Umar dikutip di laman kemenag, Jumat 3 April 2026.
Warisan Turats di Bidang Al Quran
Selama ini, Syaikhona Muhammad Kholil dikenal luas sebagai ulama ahli nahwu. Namun, melalui halaqah ini terungkap bahwa beliau juga memiliki warisan turats (khazanah klasik) yang penting di bidang Al-Qur’an.
Menag berharap Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kementerian Agama dapat bekerja sama dengan Universitas PTIQ Jakarta dalam mengawal kajian akademik terhadap manuskrip tersebut. Kolaborasi ini dinilai penting agar karya monumental Syaikhona Kholil dapat diteliti secara mendalam dan dimanfaatkan lebih luas oleh umat Islam di Indonesia.
Selain itu, kajian ini juga diharapkan menjadi bukti kesinambungan tradisi literasi Islam dari masa ke masa.
Halaqah ini digelar oleh Panitia Haul ke-101 Syaikhona Kholil bersama Lajnah Nahdhatus Turots Ilmi, dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari ulama, praktisi, hingga lembaga resmi seperti LPMQ Kementerian Agama.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya: Abd Hamid Abdul Qodir (Pengasuh Pesantren Al-Munawwir Krapyak), Muslim Nawawi (An-Nur Bantul) dan Ahmad Fathoni.
Kegiatan ini juga dihadiri para masyayikh Al-Qur’an serta dzurriyah (keturunan) Syaikhona Kholil yang berharap penelitian terhadap manuskrip peninggalan beliau dapat menghasilkan kajian komprehensif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Seminar dalam halaqah ini dibagi menjadi dua sesi dengan menghadirkan para narasumber dari kalangan akademisi dan pakar Al-Qur’an.
Sesi pertama menghadirkan: Sayyid Aqil Husin Al-Munawwar, Ahsin Sakho Muhammad, Abdul Aziz Sidqi, A. Mustain Syafi’i
Sementara sesi kedua diisi oleh: Islah Gusmian, Fahrur Rozi, Zainal Arifin Madzkur dan Abdul Hakim
Dorong Pemanfaatan Manuskrip Secara Luas
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir penelitian mendalam terhadap manuskrip Al-Qur’an peninggalan Syaikhona Kholil. Hasil kajian tersebut nantinya dapat dimanfaatkan secara luas, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam menjaga tradisi keilmuan Islam.
Upaya ini juga menjadi langkah strategis dalam mengenalkan kembali kontribusi ulama Nusantara di tingkat nasional maupun global, khususnya dalam bidang studi Al-Qur’an.
Advertisement