Doktor Cumlaude Putra Jember di UPI, Jadikan Kopi Sebagai Sumber Pembelajaran Berbasis Komunitas
Di tengah dominasi penelitian yang berpusat pada perkotaan, seorang putra daerah asal Kabupaten Jember membuktikan bahwa potensi lokal mampu menjadi sumber ilmu pengetahuan yang bernilai tinggi. Amri Dhimas Maulana berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Pendidikan IPS di Universitas Pendidikan Indonesia, Selasa, 02 Juni 2026, dengan IPK nyaris sempurna, 3,99.
Pria asak Kecamatan Semboro, Jember itu mengatakan penelitian tentang Kopi dalam konteks pendidikan lahir dari keprihatinannya terhadap pembelajaran IPS yang masih banyak berorientasi pada buku teks dan kurang menghadirkan pengalaman sosial nyata bagi peserta didik. Melalui pendekatan berbasis komunitas, siswa diajak belajar langsung dari lingkungan tempat mereka hidup dan berkembang.
"Potensi lokal yang ada di sekitar siswa sesungguhnya dapat menjadi sumber belajar yang sangat kaya dan bermakna. Pendidikan perlu hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat agar pembelajaran menjadi kontekstual dan relevan," ujarnya, Rabu, 03 Juni 2026.
Selama proses penelitian, Amri mengintegrasikan berbagai unsur kehidupan masyarakat Jember, mulai dari petani kopi, pelaku usaha kreatif, hingga komunitas lokal. Menurutnya, lingkungan sosial yang selama ini dianggap biasa justru menyimpan sumber pembelajaran yang kaya nilai sosial, ekonomi, dan budaya.
Konsistensi Amri dalam meneliti kopi menjadi salah satu keunikan perjalanan akademiknya. Sejak menempuh pendidikan sarjana, magister, hingga doktoral, ia terus mengangkat kopi sebagai objek kajian yang dipadukan dengan pendidikan IPS dan pengembangan masyarakat berbasis wilayah.
Baginya, kopi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat pegunungan yang menyimpan banyak pelajaran kehidupan bagi generasi muda.
"Kopi bukan sekadar komoditas perkebunan. Di dalamnya terdapat nilai budaya, identitas lokal, pengalaman hidup masyarakat, serta peluang pembelajaran yang sangat besar bagi siswa," katanya.
Dalam disertasinya, Amri mengembangkan model pembelajaran bernama K.O.P.I yang merupakan akronim dari Kenali, Observasi, Pendalaman, dan Inisiatif. Melalui tahapan tersebut, siswa diajak mengenali potensi daerahnya, melakukan observasi langsung, mendalami aktivitas ekonomi masyarakat, hingga menghasilkan gagasan kreatif berbasis potensi lokal.
Model pembelajaran tersebut dirancang untuk mendorong kreativitas siswa sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap peluang ekonomi yang ada di lingkungan sekitar. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak lagi sekadar menghafal konsep, melainkan menjadi ruang untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan kewirausahaan sosial.
Penelitian ini juga menjadi kritik akademik terhadap masih minimnya perhatian terhadap sekolah-sekolah di kawasan pelosok dan wilayah periferal. Menurut Amri, daerah pinggiran justru menyimpan kekayaan sosial dan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber belajar kontekstual.
"Sekolah di daerah pinggiran bukanlah ruang yang miskin pengetahuan. Justru di sanalah terdapat pengalaman sosial masyarakat yang kaya dan layak menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan," tegasnya.
Sebagai penerima Beasiswa LPDP Republik Indonesia, Amri mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk menghasilkan penelitian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Saat ini, ia juga aktif mengajar sebagai dosen Program Studi Pendidikan IPS Universitas Tazkia.
Keberhasilan Amri meraih gelar doktor dengan predikat Cumlaude mendapat apresiasi dari tim promotor dan dewan penguji. Penelitiannya dinilai memiliki kebaruan karena berhasil mengintegrasikan potensi wilayah, komunitas lokal, dan pengembangan kreativitas siswa dalam satu model pembelajaran yang aplikatif.
Dewan penguji menilai model yang dikembangkan memiliki peluang besar untuk diterapkan di berbagai daerah lain yang memiliki karakteristik wilayah dan potensi lokal serupa, sehingga dapat memperkuat pendidikan berbasis komunitas di Indonesia.
"Harapan saya, semakin banyak generasi muda yang berani meneliti daerahnya sendiri dan menghadirkan solusi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya dibangun dari kota-kota besar, tetapi juga dari sekolah-sekolah kecil di pelosok negeri yang menyimpan potensi luar biasa," pungkasnya.
Advertisement