Jejak Keilmuan Pesantren Tua Mojosari Nganjuk dan Tradisi Uniknya
Salah satu pesantren tertua di Jawa Timur adalah Pesantren Mojosari Nganjuk. Pesantren ini merupakan memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Dari sejarahnya pesantren yang berada di Kecamatan Loceret ini sudah berdiri sekitar tahun 1720 M.
Dari pesantren ini lahir tokoh-tokoh penting dalam sejarah keislaman dan organisasi keagamaan di Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).Pesantren Mojosari tidak hanya penting dalam sejarah pendidikan Islam tradisional. Namun juga memiliki tradisi dan kultur santri yang berbeda dibandingkan dengan banyak pesantren salafiyah lainnya.
Kiai Ali Imron adalah pendiri Pesantren Mojosari. Beliau berasal dari daerah Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Menurut sejumlah catatan sejarah lokal, Kiai Ali Imron merupakan murid dari Kiai Salimin Lasem, seorang ulama yang dikenal memiliki pengaruh besar dalam jaringan keilmuan Islam di pesisir utara Jawa. Dalam perjalanan spiritualnya, Kiai Ali Imron diperintahkan oleh gurunya untuk melakukan tirakat di sebuah tempat yang pada masa itu dikenal sebagai wilayah yang masih angker dan belum banyak penghuninya. Dari lokasi tersebut kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Mojosari di kawasan Loceret, Nganjuk.
Dalam proses tirakat tersebut, Kiai Ali Imron pernah mengucapkan sebuah doa atau harapan. Hingga hari ini proses tirakat itu menjadi legenda di kalangan santri Mojosari. Kiai Ali kala iti menyatakan bahwa santri yang belajar di pesantren tersebut tidak perlu melakukan tirakat berat seperti puasa mutih atau berbagai riyadhoh lainnya. Hal tersebut karena seluruh tirakat akan Kiai Imron tanggung sendiri. Beliau berpesan bahwa yang terpenting bagi para santri adalah belajar dengan tekun dan menjaga ibadah. Keyakinan ini yang kemudian berkembang menjadi tradisi dan karakter khas Pesantren Mojosari hingga sekarang.
Tradisi Unik Kehidupan Santri
Salah satu hal yang membuat Pesantren Mojosari menjadi unik adalah suasana kehidupan santrinya yang relatif santai, Akan tetapi hal tersebut tidak menghilangkan sikap disiplin dalam hal ibadah dan belajar. Berbeda dengan sebagian pesantren salafiyah lain dengan praktik riyadhoh ketat seperti puasa mutih, ngerowot, atau tirakat tertentu.
Kehidupan santri Mojosari lebih menonjolkan kebersamaan dan keakraban. Para santri sering terlihat berkumpul atau βcangkrukanβ, berbincang santai. Namun para santri dituntut tetap menjaga rutinitas mengaji kitab kuning serta menjalankan shalat berjamaah secara istiqamah. Kehidupan sosial yang cair ini justru membangun ikatan persaudaraan yang kuat di antara para santri.
Selain itu juga ada tradisi menyambut santri baru dengan cara yang cukup unik. Santri yang baru datang biasanya akan digendong oleh santri senior dan diarak sambil melantunkan shalawat. Tradisi ini dimaksudkan sebagai bentuk penyambutan sekaligus simbol penerimaan dalam keluarga besar pesantren. Namun, jika santri baru mencoba melawan atau menolak tradisi tersebut, biasanya ia akan βdigojlokiβ atau digoda secara berlebihan oleh para santri lainnya.
Meski terlihat usil, tradisi ini sebenarnya menjadi bagian dari proses pembentukan keakraban di lingkungan pesantren. Tradisi keusilan santri Mojosari bahkan sering dialami oleh tamu yang datang berkunjung. Dalam beberapa kisah yang tercatat dalam buku Sang Blawong, tamu pesantren terkadang menjadi sasaran candaan para santri hingga akhirnya melapor kepada pengasuh pesantren.
Pesantren Mojosari telah mengalami pergantian kepemimpinan dari generasi ke generasi keluarga pendiri. Salah satu tokoh penting dalam perjalanan pesantren ini adalah KH Zainuddin Mojosari, yang dikenal sebagai pengasuh generasi kelima. Dalam berbagai cerita yang berkembang di kalangan santri, KH Zainuddin sering menasihati para santri yang terlalu nakal dengan sebuah perumpamaan sederhana. Ia pernah mengatakan bahwa kenakalan santri ibarat padi yang masih mudaβtegak dan menengadah. Ketika sudah berisi, padi akan merunduk dengan sendirinya. Ungkapan tersebut menggambarkan pandangan bahwa kenakalan masa muda merupakan bagian dari proses menuju kedewasaan.
Meski kehidupan santrinya terlihat santai, Pesantren Mojosari terbukti mampu melahirkan banyak tokoh penting dalam dunia keislaman di Indonesia. Beberapa tokoh besar yang pernah menimba ilmu di pesantren ini antara lain antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Kemudian ada KH Ahmad Djazuli dari Ploso, KH Toha dari Bandar Kidul Kediri hingga KH Fattah dari Mangunsari Tulungagung. T
okoh-tokoh tersebut memiliki peran besar dalam perkembangan pendidikan Islam, dakwah, dan organisasi keagamaan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Pesantren Mojosari mampu membentuk karakter dan keilmuan santri secara kuat meskipun dengan pendekatan yang khas.
Hingga kini Pesantren Mojosari tetap menjadi salah satu pesantren bersejarah di Nganjuk. Kompleks pesantren ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga sering menjadi lokasi berbagai kegiatan keagamaan dan organisasi Islam. Sejarah Pesantren Mojosari memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan Islam tradisional tidak selalu identik dengan kehidupan yang kaku. Melalui pendekatan yang lebih cair dan penuh keakraban, pesantren ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang unik sekaligus produktif.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement