Merawat Kesetiaan Iman di Usia Senja, Kisah Hangat Paskah di GKT Kepanjen
Perayaan Paskah tidak hanya dimaknai sebagai momentum kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi penguat spiritual bagi jemaat lanjut usia di (Gereja Kristen Tuhan) GKT Kepanjen, Kabupaten Malang. Di Gereja yang telah berdiri sejak 1988 ini, nilai kebersamaan dan perhatian personal justru menjadi pondasi utama dalam merawat kesetiaan iman di usia senja.
Pendeta Danang mengungkapkan, Gereja yang dipimpinnya memiliki karakteristik unik. Mayoritas jemaat merupakan kalangan lansia, seiring minimnya generasi muda yang menetap di wilayah tersebut.
βSejak awal berdiri tahun 1988 oleh almarhum Pendeta Joko Sukamto, Gereja ini sudah melalui banyak dinamika. Pergantian pelayan pernah terjadi cukup sering karena keterbatasan sumber daya. Hingga akhirnya dalam 10 tahun terakhir, saya dipercaya melayani disini,β ujarnya di sela perayaan Paskah, Minggu, 5 April 2026.
Ia menjelaskan, Kepanjen sebagai kota kecil membuat banyak anak muda memilih merantau setelah lulus sekolah. Kondisi ini menjadikan GKT Kepanjen identik sebagai βgereja orang tuaβ. Meski demikian, Pendeta Danang justru melihat hal tersebut sebagai panggilan pelayanan yang istimewa. Baginya, melayani lansia adalah bentuk tanggung jawab iman yang tidak kalah penting.
βSaya belajar bahwa siapapun jemaatnya, baik muda maupun tua, mereka adalah umat Tuhan yang harus dilayani sebaik mungkin. Mungkin Tuhan mempercayakan saya untuk mendampingi para lansia ini agar tetap setia sampai akhir hidupnya,β tuturnya.
Dalam konteks Paskah, nilai kesetiaan dan pengharapan menjadi semakin relevan bagi jemaat lansia. Momentum ini dimanfaatkan Gereja untuk memperkuat relasi personal melalui kunjungan langsung atau visitasi.
βOrang tua itu sederhana, mereka ingin diperhatikan. Kuncinya ada pada kedekatan. Kami rutin melakukan kunjungan, bahkan saya pribadi hampir setiap hari menyempatkan diri untuk datang, sekadar berbincang dan mendoakan mereka,β jelasnya.
Pendekatan ini turut melibatkan penatua gereja yang aktif mendampingi jemaat secara bergiliran. Kunjungan dilakukan secara rutin, terutama menjelang perayaan Paskah, sebagai bentuk perhatian sekaligus penguatan iman.
Menariknya, meski jumlah anak muda di GKT Kepanjen hanya sekitar delapan hingga sembilan orang, mereka tetap aktif terlibat dalam pelayanan. Kehadiran mereka menjadi energi tersendiri dalam mendukung kegiatan gereja.
βWalaupun sedikit, anak-anak muda ini sangat membantu. Mereka hadir dan melayani dalam momen-momen tertentu. Ini menjadi sukacita bagi kami semua,β imbuhnya.
Suasana kekeluargaan pun menjadi ciri khas gereja ini. Dengan jumlah jemaat yang tidak terlalu besar, relasi antar anggota terjalin lebih erat, layaknya keluarga sendiri.
βKeuntungan gereja kecil adalah kedekatan. Jemaat bisa saling mengenal dan merasakan kebersamaan yang kuat,β katanya.
Dalam perayaan Paskah, GKT Kepanjen tidak memiliki tradisi khusus yang berbeda secara signifikan. Namun, variasi kegiatan seperti kunjungan jemaat dan doa bersama menjadi bagian penting dalam perayaan.
Biasanya, setelah ibadah Paskah, jemaat menikmati kebersamaan dengan makan bersama, di mana masing-masing membawa hidangan dari rumah. Tradisi sederhana ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Bagi jemaat lansia, Paskah bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat iman dan menemukan pengharapan di tengah keterbatasan usia. Kehadiran gereja sebagai ruang yang hangat dan penuh perhatian menjadi penopang utama dalam menjalani masa senja dengan damai dan penuh makna.
Advertisement